Amerika dan Satanisme! (Part2)


Setiap orang pernah mendengar (melalui buku cerita, walt Disney movies) perkataan ”Wise as an Owl…” (bijaksana seperti burung hantu). Tapi tahukah anda dari mana asal frase ini? Frase ini muncul dari ”goddess of wisdom” yang juga digambarkan sebagai seekor burung hantu.

Cobalah menggunakan search engine dan cari term “owl” dan “symbol” maka akan muncul berbagai macam referensi untuk owl sebagai symbol dari Athena. Pada kenyataannya, nama scientific untuk burung hantu adalah ”Athene Noctua”. mungkin juga anda pernah melihat film-film yang menampilkan dewi Athena dengan burung hantu sebagai pet nya. Koin orang Athena, memiliki Athena dan burung hantu pada sisi-sisinya. Sehingga koin ini disebut juga owl coin.

Penyihir raja Arthur, Merlin, selalu digambarkan dengan burung hantu pada pundaknya (oh.. jangan lupa juga film Harry Potter). Burung hantu adalah symbol yang tak tergantikan untuk intelegensi dan kebijaksanaan.
Athena juga di panggil sebagai ”Simiramas” (dalam kebudayaan bangsa laen), dan Athena juga di kenal dengan nama Ishtar, a.k.a Isis.

Isis dikenal sebagai ”goddess of Towers” (a master builder) dan juga ”goddess of wisdom” sehingga burung hantu juga merupakan bentuk lain dari Isis.

Jika anda mengunjungi Washington DC melalui Google Earth, maka jangan terkejut jika anda akan mendapati beberapa gedung dan bentuk arsitektur yang berasal dari paganism, patung-patung burung hantu, setan, dewa-dewa pagan, Satanism dll. Amerika mengadopsi symbol-simbol dari misteri mesir.

Symbol Pagan di Capitol City

Lihat lagi ibukota US. Bagian timur dari bagian capitol nya.. hmmm menarik

Perhatikan symbol burung hantu tergambar di sana. Apakah founding father amerika membuat point mereka bahwa Washington dc adalah pusat ‘kebijaksanaan’?

Upacara ini terlibat pada pembakaran yang di sebut Dull Care, sebagai symbol dari beban dan tanggungjawab yang ingin dihilangkan sementara waktu. Lebih dari 100 Bohemians mengambil bagian pada upacara ini sebagai pemimpin upacara, pembantu, pembawa obor, pembawa ornament, tukang perahu (altar nya terletak di seberang danau) dan pengisi suara. Lepas dari semua pidato-pidato yang manis, mereka sebenarnya menunggu hingga upacara ‘api’ ini dimulai. Seluruh Bohemians harus meminta nasihat dari ‘the might owl’ ” O thou, great symbol of all mortal wisdom, Owl of Bohemia, we do beseech thee, grant us counsel” mengikuti suara pemimpin upacara. Sebuah aura cahaya akan terlihat di sekitar kepala patung burung hantu, dan kemudian burung besar itu akan menunjukan ‘hikmat’nya. Pemimpin upacara akan menyalakan api pada tumpukan kayu pengorbanan dengan menggunakan api dari Lamp of Fellowship, yang terletak dekat dengan ”Altar of Bohemia” di bagian bawah dari kuil.
Sumber William Domhoff, The Progressive, January 1981 “Bohemian Bigwigs Perpetuate Canaanite Cult”


Close up dari foto tulang di altar.

Helmut Schmidt memberikan pidato (1991)
Dalam autobiografi nya ”Men and Powers, a Political Retrospective” berkata, bahwa ia merupakan anggota dari Council of Foreign Relations, Trilateral Commission dan Bilderberg Group. Dia juga menegaskan bahwa ia berpartisipasi aktif dalam mencipatkana Pemerintahan Dunia. Dalam buku yang sama Schimdt mengakui ada nya pertemuan tiap summer yang di hadiri oleh pemimpin-pemimpin global. Dia juga berbicara mengenai grove dan ritual yang serupa di german, namun bohemian grove adalah tempat favoritnya.

National Press Club berdiri pada tahun 1980 di Washington DC tidak lama setelah elite dan journalist mendirikian Bohemian Club di west coast. Anggota nya terdiri dari ‘newsmakers’, reporter, termasuk 17 president berturut-turut amerika serikat. Sebagain besar dari mereka membuat presentasi di restaurant club, kedua president Carter dan Reagen mengumumkan pencalonan mereka sebagai president di grove. Symbol dari NPC adalah bentuk dari illuminat

  1. project manhatan, apollo, area 51 etc dirancang di BG
  2. secara berkala pemimpin USSR dan USA bertemu di BG
  3. NAZI didukung oleh prescot bush (opa bush yang skrang) – lagi ngumpulin bahan ttg ini. (nomor tahanan yahudi yang di tato dilengan mereka adalah buatan IBM awal dari barcode yang kita kenal sekarang)
  4. semua president amerika adalah pendukung new world order dan anggota BC kecuali JFK (di eliminasi pada apex triangle piramid)
  5. semua organisasi NWO, bertemu di BG tiap tahunnya pemimpin eropa amerika dan negara besar lainnya.
  6. BC bukan untuk amerika, tapi untuk skala yg lebih besar, penguasa tatanan dunia baru.
  7. ritual lain dalam BC adalah pesta sex homosexual – seluruh anggota BC adalah pria. hanya ada satu wanita di dalam BG, dan itu adalah patung.
  8. President amerika ‘dipilih’ di BG bukan dalam election – what a democratic nation.
  9. G. Washington: “cara paling aman menyembunyikan rahasia adalah dengan meletakannya di tempat umum” – for all the symbols/signs
  10. Amerika adalah polisi dunia. kata ‘jihad, 911, terorist, merupakan bagian dari propaganda.
  11. pernahkah kita membayangkan, mengapa osama bin laden blm tertangkap-jangan remehkan kemampuan satelit amerika dalam pemetaan dan pelokasian object – apakah sadam husein benar-benar telah dieksekusi ?, benarkah kita telah melihat jasad Hitler?



72 thoughts on “Amerika dan Satanisme! (Part2)

  1. eh siapapun yang jelek jelekin islam, lo tuh asli manusia bodoh. islam jelas agama yang paling rasional dan paling logika. lo yang jelek jelekin islam cuma setengah setengah mempelajari dan memotong motong artinya. gue nih sudah memberi pelajaran agama kristen protestan, katholik, bahkan mengajar agama budha sama murid murid gue yang gak ada satupun dari mereka beragama islam. agama agama itu aneh semua, dangkal dan gak masuk diakal. bahkan gue harus menahan ketawa selama gue ngajar ke tiga agama itu. yang paling benar dan gak ngaco ya memang islam.itu kenyataan. bahkan anak anak murid gue itu sangat kesulitan sekali mencerna agama mereka sendiri karena memang aneh dan ajaib baik kata katanya maupun cerita cerita yang terkandung didalamnya.

  2. Mitos Mitos Dalam Kristen

    1. Kristen adalah agama damai.

    Ini jelas hoax. Ini buktinya:

    Tidak membawa damai
    (Matius 10:34-35) – “Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. 35″Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, 36dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya.”
    (Lukas 12:51) – “Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan. 52Karena mulai dari sekarang akan ada pertentangan antara lima orang di dalam satu rumah, tiga melawan dua dan dua melawan tiga.”
    (Lukas 22:36) – Jawab mereka: “Suatupun tidak.” Kata-Nya kepada mereka: “Tetapi sekarang ini, siapa yang mempunyai pundi-pundi, hendaklah ia membawanya, demikian juga yang mempunyai bekal; dan siapa yang tidak mempunyainya hendaklah ia menjual jubahnya dan membeli pedang.”

    • Ayat setan dalam Bible (dari telegraph.co.uk):

      Topping it was St Paul’s advice in 1 Timothy 2:12, in which the saint says: “I do not permit a woman to teach or to have authority over a man, she must be silent.”

      The extract is often used to justify opposition to women priests.

      Next was this worrying verse endorsing genocide, from 1 Samuel 15:3: “This is what the Lord Almighty says … ‘Now go and strike Amalek and devote to destruction all that they have. Do not spare them, but kill both man and woman, child and infant, ox and sheep, camel and donkey.’ ”

      Third was Moses’s call to kill witches, in Exodus 22:18: “Do not allow a sorceress to live.”

      Another gruesome verse to make the list was Psalm 137, which celebrates this terrible revenge: “Happy is he who repays you for what you have done to us / He who seizes your infants and dashes them against the rocks.”

      A more controversial inclusion was that of St Paul’s thoughts on homosexuality, from Romans 1:27, currently an extremely divisive matter with the Anglican church: “In the same way also the men, giving up natural intercourse with women, were consumed with passion for one another. Men committed shameless acts with men and received in their own persons the due penalty for their error.”

      Others on the list included God’s test of Abraham in Genesis 22, in which Abraham is made to offer his son Isaac as a sacrifice; this endorsement of female subservience in Ephesians 5:22, “Wives, submit to you husbands as to the Lord”; and similar advice for slaves in 1 Peter 2:18: “Slaves, submit yourselves to your masters with all respect, not only to the good and gentle but also to the cruel.”

      Simon Jenkins, editor of shipoffools.com, said the idea behind the web poll was to make people think about the dangers of selectively quoting from the bible.

      The list was unveiled at the Greenbelt Festival in Cheltenham on Monday evening.

      This is the top 10 list in full:

      No. 1:St Paul’s advice about whether women are allowed to teach men in church:

      “I do not permit a woman to teach or to have authority over a man; she must be silent.” (1 Timothy 2:12)

      No. 2: In this verse, Samuel, one of the early leaders of Israel, orders genocide against a neighbouring people:

      “This is what the Lord Almighty says… ‘Now go and strike Amalek and devote to destruction all that they have. Do not spare them, but kill both man and woman, child and infant, ox and sheep, camel and donkey.’” (1 Samuel 15:3)

      No. 3: A command of Moses:

      “Do not allow a sorceress to live.” (Exodus 22:18)

      No. 4: The ending of Psalm 137, a psalm which was made into a disco calypso hit by Boney M, is often omitted from readings in church:

      “Happy is he who repays you for what you have done to us – he who seizes your infants and dashes them against the rocks.” (Psalm 137:9)

      No. 5: Another blood-curdling tale from the Book of Judges, where an Israelite man is trapped in a house by a hostile crowd, and sends out his concubine to placate them:

      “So the man took his concubine and sent her outside to them, and they raped her and abused her throughout the night, and at dawn they let her go. At daybreak the woman went back to the house where her master was staying, fell down at the door and lay there until daylight. When her master got up in the morning and opened the door of the house and stepped out to continue on his way, there lay his concubine, fallen in the doorway of the house, with her hands on the threshold. He said to her, ‘Get up; let’s go.’ But there was no answer. Then the man put her on his donkey and set out for home.” (Judges 19:25-28)

      No. 6: St Paul condemns homosexuality in the opening chapter of the Book of Romans:

      “In the same way also the men, giving up natural intercourse with women, were consumed with passion for one another. Men committed shameless acts with men and received in their own persons the due penalty for their error.” (Romans 1:27)

      No. 7: In this story from the Book of Judges, an Israelite leader, Jephthah, makes a rash vow to God, which has to be carried out:

      “And Jephthah made a vow to the Lord, and said, ‘If you will give the Ammonites into my hand, then whoever comes out of the doors of my house to meet me, when I return victorious from the Ammonites, shall be the Lord’s, to be offered up by me as a burnt-offering.’ Then Jephthah came to his home at Mizpah; and there was his daughter coming out to meet him with timbrels and with dancing. She was his only child; he had no son or daughter except her. When he saw her, he tore his clothes, and said, ‘Alas, my daughter! You have brought me very low; you have become the cause of great trouble to me. For I have opened my mouth to the Lord, and I cannot take back my vow.’” (Judges 11:30-1, 34-5)

      No. 8: The Lord is speaking to Abraham in this story where God commands him to sacrifice his son:

      ‘Take your son, your only son Isaac, whom you love, and go to the land of Moriah, and offer him there as a burnt-offering on one of the mountains that I shall show you.’ (Genesis 22:2)

      No. 9: “Wives, submit to your husbands as to the Lord.” (Ephesians 5:22)

      No. 10: “Slaves, submit yourselves to your masters with all respect, not only to the good and gentle but also to the cruel.” (1 Peter 2:18)

      • 2. Kristen bebas dari terrorisme

        Jelas HOAX besar: kristen adalah agama PEMBUNUH TERBESAR. Lebih banyak orang mati atas nama agama kristenn.

        Bukti:

        Terrorisme
        Jika disinggung mengenai terrorisme, muslim yang cerdas dan tahu sejarah mungkin cuma tertawa, karena dia tahu jika ditilik dari sejarahnya kristenlah yang paling banyak membunuh manusia atas nama agama. Tapi belakangan orang kristen membanding2kan kejahatanya di masa lampau dengan kejahatan orang islam di masa lalu juga, lucunya, kejahatan2 islam di jaman dulu yang mereka sebut2 itu sebagian besar tidak ada motif agama, latar belakang agama, atau berhubungan dengan hal2 religius. Yang ada hanya kejahatan pihak sekuler. Ini jelas menunjukan betapa TOLOL mereka itu. Ada pula yang menyinggung2 tentang penjajahan dinasti ottoman, mana latar belakang agamanya?, lagipula kalau jajah menjajah juga padahal penyembah monyet berewoklah yang paling GAHAR, coba lihat negara2 asia dan afrika, siapa yang jajah?, termasuk negara kita, nenek moyang kita hidup menderita ratusan tahun dijajah siapa?, budak2 yang dipekerjakan paksa di perkebunan, tambang, dipekejakan paksa utk membangun jalan sampe mati kelaparan biangnya siapa?. Ada juga yang menyinggung soal penjajahan islam atas spanyol, orang2 kristen ini jelas ilmu sejarahnya cetek. Jelas2 selama islam berkuasa di spanyol tidak ada masalah, justru yang biadab itu orang kristen lewat penyiksaan, pembantaian dan inquisition-nya, malah berkebalikan. Justru suasana lebih damai di bawah islam, eropa juga diperkenalkan kembali dengan literatur2 scientist top jaman eropa pagan, yang kemudian membawa mereka ke zaman renaissance, dan lepas dari kungkungan agama yang membuat peradaban mereka terbelakang dibanding peradaban china dan timur tengah. Jadi kalau ada orkris ngomong2 masalah terrorisme dll. dll. ingat itu , LEBIH BANYAK ORANG MATI ATAS NAMA AGAMA KRISTEN.

        Bukti:

        Listed are only events that solely occurred on command of church authorities or were committed in the name of Christianity. (List incomplete)

        Ancient Pagans

        As soon as Christianity was legal (315), more and more pagan temples were destroyed by Christian mob. Pagan priests were killed.
        Between 315 and 6th century thousands of pagan believers were slain.
        Examples of destroyed Temples: the Sanctuary of Aesculap in Aegaea, the Temple of Aphrodite in Golgatha, Aphaka in Lebanon, the Heliopolis.
        Christian priests such as Mark of Arethusa or Cyrill of Heliopolis were famous as “temple destroyer.” [DA468]
        Pagan services became punishable by death in 356. [DA468]
        Christian Emperor Theodosius (408-450) even had children executed, because they had been playing with remains of pagan statues. [DA469]
        According to Christian chroniclers he “followed meticulously all Christian teachings…”
        In 6th century pagans were declared void of all rights.
        In the early fourth century the philosopher Sopatros was executed on demand of Christian authorities. [DA466]
        The world famous female philosopher Hypatia of Alexandria was torn to pieces with glass fragments by a hysterical Christian mob led by a Christian minister named Peter, in a church, in 415.
        [DO19-25]
        Mission

        Emperor Karl (Charlemagne) in 782 had 4500 Saxons, unwilling to convert to Christianity, beheaded. [DO30]
        Peasants of Steding (Germany) unwilling to pay suffocating church taxes: between 5,000 and 11,000 men, women and children slain 5/27/1234 near Altenesch/Germany. [WW223]
        Battle of Belgrad 1456: 80,000 Turks slaughtered. [DO235]
        15th century Poland: 1019 churches and 17987 villages plundered by Knights of the Order. Victims unknown. [DO30]
        16th and 17th century Ireland. English troops “pacified and civilized” Ireland, where only Gaelic “wild Irish”, “unreasonable beasts lived without any knowledge of God or good manners, in common of their goods, cattle, women, children and every other thing.” One of the more successful soldiers, a certain Humphrey Gilbert, half-brother of Sir Walter Raleigh, ordered that “the heddes of all those (of what sort soever thei were) which were killed in the daie, should be cutte off from their bodies… and should bee laied on the ground by eche side of the waie”, which effort to civilize the Irish indeed caused “greate terrour to the people when thei sawe the heddes of their dedde fathers, brothers, children, kinsfolke, and freinds on the grounde”.
        Tens of thousands of Gaelic Irish fell victim to the carnage. [SH99, 225]
        Crusades (1095-1291)

        First Crusade: 1095 on command of pope Urban II. [WW11-41]
        Semlin/Hungary 6/24/96 thousands slain. Wieselburg/Hungary 6/12/96 thousands. [WW23]
        9/9/96-9/26/96 Nikaia, Xerigordon (then turkish), thousands respectively. [WW25-27]
        Until Jan 1098 a total of 40 capital cities and 200 castles conquered (number of slain unknown) [WW30]
        after 6/3/98 Antiochia (then turkish) conquered, between 10,000 and 60,000 slain. 6/28/98 100,000 Turks (incl. women & children) killed. [WW32-35]
        Here the Christians “did no other harm to the women found in [the enemy’s] tents—save that they ran their lances through their bellies,” according to Christian chronicler Fulcher of Chartres. [EC60]
        Marra (Maraat an-numan) 12/11/98 thousands killed. Because of the subsequent famine “the already stinking corpses of the enemies were eaten by the Christians” said chronicler Albert Aquensis. [WW36]
        Jerusalem conquered 7/15/1099 more than 60,000 victims (jewish, muslim, men, women, children). [WW37-40]
        (In the words of one witness: “there [in front of Solomon’s temple] was such a carnage that our people were wading ankle-deep in the blood of our foes”, and after that “happily and crying for joy our people marched to our Saviour’s tomb, to honour it and to pay off our debt of gratitude”)
        The Archbishop of Tyre, eye-witness, wrote: “It was impossible to look upon the vast numbers of the slain without horror; everywhere lay fragments of human bodies, and the very ground was covered with the blood of the slain. It was not alone the spectacle of headless bodies and mutilated limbs strewn in all directions that roused the horror of all who looked upon them. Still more dreadful was it to gaze upon the victors themselves, dripping with blood from head to foot, an ominous sight which brought terror to all who met them. It is reported that within the Temple enclosure alone about ten thousand infidels perished.” [TG79]
        Christian chronicler Eckehard of Aura noted that “even the following summer in all of palestine the air was polluted by the stench of decomposition”. One million victims of the first crusade alone. [WW41]
        Battle of Askalon, 8/12/1099. 200,000 heathens slaughtered “in the name of Our Lord Jesus Christ”. [WW45]
        Fourth crusade: 4/12/1204 Constantinople sacked, number of victims unknown, numerous thousands, many of them Christian. [WW141-148]
        Rest of Crusades in less detail: until the fall of Akkon 1291 probably 20 million victims (in the Holy land and Arab/Turkish areas alone). [WW224]
        Note: All figures according to contemporary (Christian) chroniclers.

        Heretics

        Already in 385 C.E. the first Christians, the Spanish Priscillianus and six followers, were beheaded for heresy in Trier/Germany [DO26]
        Manichaean heresy: a crypto-Christian sect decent enough to practice birth control (and thus not as irresponsible as faithful Catholics) was exterminated in huge campaigns all over the Roman empire between 372 C.E. and 444 C.E. Numerous thousands of victims. [NC]
        Albigensians: the first Crusade intended to slay other Christians. [DO29]
        The Albigensians…viewed themselves as good Christians, but would not accept roman Catholic rule, and taxes, and prohibition of birth control. [NC]
        Begin of violence: on command of pope Innocent III (greatest single pre-nazi mass murderer) in 1209. Bezirs (today France) 7/22/1209 destroyed, all the inhabitants were slaughtered. Victims (including Catholics refusing to turn over their heretic neighbours and friends) 20,000-70,000. [WW179-181]
        Carcassonne 8/15/1209, thousands slain. Other cities followed. [WW181]
        subsequent 20 years of war until nearly all Cathars (probably half the population of the Languedoc, today southern France) were exterminated. [WW183]
        After the war ended (1229) the Inquisition was founded 1232 to search and destroy surviving/hiding heretics. Last Cathars burned at the stake 1324. [WW183]
        Estimated one million victims (cathar heresy alone), [WW183]
        Other heresies: Waldensians, Paulikians, Runcarians, Josephites, and many others. Most of these sects exterminated, (I believe some Waldensians live today, yet they had to endure 600 years of persecution) I estimate at least hundred thousand victims (including the Spanish inquisition but excluding victims in the New World).
        Spanish Inquisitor Torquemada alone allegedly responsible for 10,220 burnings. [DO28]
        John Huss, a critic of papal infallibility and indulgences, was burned at the stake in 1415. [LI475-522]
        University professor B.Hubmaier burned at the stake 1538 in Vienna. [DO59]
        Giordano Bruno, Dominican monk, after having been incarcerated for seven years, was burned at the stake for heresy on the Campo dei Fiori (Rome) on 2/17/1600.
        Witches

        from the beginning of Christianity to 1484 probably more than several thousand.
        in the era of witch hunting (1484-1750) according to modern scholars several hundred thousand (about 80% female) burned at the stake or hanged. [WV]
        incomplete list of documented cases:
        The Burning of Witches – A Chronicle of the Burning Times
        Religious Wars

        15th century: Crusades against Hussites, thousands slain. [DO30]
        1538 pope Paul III declared Crusade against apostate England and all English as slaves of Church (fortunately had not power to go into action). [DO31]
        1568 Spanish Inquisition Tribunal ordered extermination of 3 million rebels in (then Spanish) Netherlands. Thousands were actually slain. [DO31]
        1572 In France about 20,000 Huguenots were killed on command of pope Pius V. Until 17th century 200,000 flee. [DO31]
        17th century: Catholics slay Gaspard de Coligny, a Protestant leader. After murdering him, the Catholic mob mutilated his body, “cutting off his head, his hands, and his genitals… and then dumped him into the river […but] then, deciding that it was not worthy of being food for the fish, they hauled it out again [… and] dragged what was left … to the gallows of Montfaulcon, ‘to be meat and carrion for maggots and crows’.” [SH191]
        17th century: Catholics sack the city of Magdeburg/Germany: roughly 30,000 Protestants were slain. “In a single church fifty women were found beheaded,” reported poet Friedrich Schiller, “and infants still sucking the breasts of their lifeless mothers.” [SH191]
        17th century 30 years’ war (Catholic vs. Protestant): at least 40% of population decimated, mostly in Germany. [DO31-32]
        Jews

        Already in the 4th and 5th centuries synagogues were burned by Christians. Number of Jews slain unknown.
        In the middle of the fourth century the first synagogue was destroyed on command of bishop Innocentius of Dertona in Northern Italy. The first synagogue known to have been burned down was near the river Euphrat, on command of the bishop of Kallinikon in the year 388. [DA450]
        17. Council of Toledo 694: Jews were enslaved, their property confiscated, and their children forcibly baptized. [DA454]
        The Bishop of Limoges (France) in 1010 had the cities’ Jews, who would not convert to Christianity, expelled or killed. [DA453]
        First Crusade: Thousands of Jews slaughtered 1096, maybe 12.000 total. Places: Worms 5/18/1096, Mainz 5/27/1096 (1100 persons), Cologne, Neuss, Altenahr, Wevelinghoven, Xanten, Moers, Dortmund, Kerpen, Trier, Metz, Regensburg, Prag and others (All locations Germany except Metz/France, Prag/Czech) [EJ]
        Second Crusade: 1147. Several hundred Jews were slain in Ham, Sully, Carentan, and Rameru (all locations in France). [WW57]
        Third Crusade: English Jewish communities sacked 1189/90. [DO40]
        Fulda/Germany 1235: 34 Jewish men and women slain. [DO41]
        1257, 1267: Jewish communities of London, Canterbury, Northampton, Lincoln, Cambridge, and others exterminated. [DO41]
        1290 in Bohemian (Poland) allegedly 10,000 Jews killed. [DO41]
        1337 Starting in Deggendorf/Germany a Jew-killing craze reaches 51 towns in Bavaria, Austria, Poland. [DO41]
        1348 All Jews of Basel/Switzerland and Strasbourg/France (two thousand) burned. [DO41]
        1349 In more than 350 towns in Germany all Jews murdered, mostly burned alive (in this one year more Jews were killed than Christians in 200 years of ancient Roman persecution of Christians). [DO42]
        1389 In Prag 3,000 Jews were slaughtered. [DO42]
        1391 Seville’s Jews killed (Archbishop Martinez leading). 4,000 were slain, 25,000 sold as slaves. [DA454] Their identification was made easy by the brightly colored “badges of shame” that all jews above the age of ten had been forced to wear.
        1492: In the year Columbus set sail to conquer a New World, more than 150,000 Jews were expelled from Spain, many died on their way: 6/30/1492. [MM470-476]
        1648 Chmielnitzki massacres: In Poland about 200,000 Jews were slain. [DO43]
        (I feel sick …) this goes on and on, century after century, right into the kilns of Auschwitz.

        Native Peoples

        Beginning with Columbus (a former slave trader and would-be Holy Crusader) the conquest of the New World began, as usual understood as a means to propagate Christianity.
        Within hours of landfall on the first inhabited island he encountered in the Caribbean, Columbus seized and carried off six native people who, he said, “ought to be good servants … [and] would easily be made Christians, because it seemed to me that they belonged to no religion.” [SH200]
        While Columbus described the Indians as “idolators” and “slaves, as many as [the Crown] shall order,” his pal Michele de Cuneo, Italian nobleman, referred to the natives as “beasts” because “they eat when they are hungry,” and made love “openly whenever they feel like it.” [SH204-205]
        On every island he set foot on, Columbus planted a cross, “making the declarations that are required” – the requerimiento – to claim the ownership for his Catholic patrons in Spain. And “nobody objected.” If the Indians refused or delayed their acceptance (or understanding), the requerimiento continued:
        I certify to you that, with the help of God, we shall powerfully enter in your country and shall make war against you … and shall subject you to the yoke and obedience of the Church … and shall do you all mischief that we can, as to vassals who do not obey and refuse to receive their lord and resist and contradict him.” [SH66]

        Likewise in the words of John Winthrop, first governor of Massachusetts Bay Colony: “justifieinge the undertakeres of the intended Plantation in New England … to carry the Gospell into those parts of the world, … and to raise a Bulworke against the kingdome of the Ante-Christ.” [SH235]
        In average two thirds of the native population were killed by colonist-imported smallpox before violence began. This was a great sign of “the marvelous goodness and providence of God” to the Christians of course, e.g. the Governor of the Massachusetts Bay Colony wrote in 1634, as “for the natives, they are near all dead of the smallpox, so as the Lord hath cleared our title to what we possess.” [SH109,238]
        On Hispaniola alone, on Columbus visits, the native population (Arawak), a rather harmless and happy people living on an island of abundant natural resources, a literal paradise, soon mourned 50,000 dead. [SH204]
        The surviving Indians fell victim to rape, murder, enslavement and spanish raids.
        As one of the culprits wrote: “So many Indians died that they could not be counted, all through the land the Indians lay dead everywhere. The stench was very great and pestiferous.” [SH69]
        The indian chief Hatuey fled with his people but was captured and burned alive. As “they were tying him to the stake a Franciscan friar urged him to take Jesus to his heart so that his soul might go to heaven, rather than descend into hell. Hatuey replied that if heaven was where the Christians went, he would rather go to hell.” [SH70]
        What happened to his people was described by an eyewitness:
        “The Spaniards found pleasure in inventing all kinds of odd cruelties … They built a long gibbet, long enough for the toes to touch the ground to prevent strangling, and hanged thirteen [natives] at a time in honor of Christ Our Saviour and the twelve Apostles… then, straw was wrapped around their torn bodies and they were burned alive.” [SH72]
        Or, on another occasion:
        “The Spaniards cut off the arm of one, the leg or hip of another, and from some their heads at one stroke, like butchers cutting up beef and mutton for market. Six hundred, including the cacique, were thus slain like brute beasts…Vasco [de Balboa] ordered forty of them to be torn to pieces by dogs.” [SH83]
        The “island’s population of about eight million people at the time of Columbus’s arrival in 1492 already had declined by a third to a half before the year 1496 was out.” Eventually all the island’s natives were exterminated, so the Spaniards were “forced” to import slaves from other caribbean islands, who soon suffered the same fate. Thus “the Caribbean’s millions of native people [were] thereby effectively liquidated in barely a quarter of a century”. [SH72-73] “In less than the normal lifetime of a single human being, an entire culture of millions of people, thousands of years resident in their homeland, had been exterminated.” [SH75]
        “And then the Spanish turned their attention to the mainland of Mexico and Central America. The slaughter had barely begun. The exquisite city of Tenochtitln [Mexico city] was next.” [SH75]
        Cortez, Pizarro, De Soto and hundreds of other spanish conquistadors likewise sacked southern and mesoamerican civilizations in the name of Christ (De Soto also sacked Florida).
        “When the 16th century ended, some 200,000 Spaniards had moved to the Americas. By that time probably more than 60,000,000 natives were dead.” [SH95]
        Of course no different were the founders of what today is the US of Amerikkka.

        Although none of the settlers would have survived winter without native help, they soon set out to expel and exterminate the Indians. Warfare among (north American) Indians was rather harmless, in comparison to European standards, and was meant to avenge insults rather than conquer land. In the words of some of the pilgrim fathers: “Their Warres are farre less bloudy…”, so that there usually was “no great slawter of nether side”. Indeed, “they might fight seven yeares and not kill seven men.” What is more, the Indians usually spared women and children. [SH111]
        In the spring of 1612 some English colonists found life among the (generally friendly and generous) natives attractive enough to leave Jamestown – “being idell … did runne away unto the Indyans,” – to live among them (that probably solved a sex problem).
        “Governor Thomas Dale had them hunted down and executed: ‘Some he apointed (sic) to be hanged Some burned Some to be broken upon wheles, others to be staked and some shott to deathe’.” [SH105] Of course these elegant measures were restricted for fellow englishmen: “This was the treatment for those who wished to act like Indians. For those who had no choice in the matter, because they were the native people of Virginia” methods were different: “when an Indian was accused by an Englishman of stealing a cup and failing to return it, the English response was to attack the natives in force, burning the entire community” down. [SH105]
        On the territory that is now Massachusetts the founding fathers of the colonies were committing genocide, in what has become known as the “Peqout War”. The killers were New England Puritan Christians, refugees from persecution in their own home country England.
        When however, a dead colonist was found, apparently killed by Narragansett Indians, the Puritan colonists wanted revenge. Despite the Indian chief’s pledge they attacked.
        Somehow they seem to have lost the idea of what they were after, because when they were greeted by Pequot Indians (long-time foes of the Narragansetts) the troops nevertheless made war on the Pequots and burned their villages.
        The puritan commander-in-charge John Mason after one massacre wrote: “And indeed such a dreadful Terror did the Almighty let fall upon their Spirits, that they would fly from us and run into the very Flames, where many of them perished … God was above them, who laughed his Enemies and the Enemies of his People to Scorn, making them as a fiery Oven … Thus did the Lord judge among the Heathen, filling the Place with dead Bodies”: men, women, children. [SH113-114]
        So “the Lord was pleased to smite our Enemies in the hinder Parts, and to give us their land for an inheritance”. [SH111].
        Because of his readers’ assumed knowledge of Deuteronomy, there was no need for Mason to quote the words that immediately follow:
        “Thou shalt save alive nothing that breatheth. But thou shalt utterly destroy them…” (Deut 20)
        Mason’s comrade Underhill recalled how “great and doleful was the bloody sight to the view of the young soldiers” yet reassured his readers that “sometimes the Scripture declareth women and children must perish with their parents”. [SH114]
        Other Indians were killed in successful plots of poisoning. The colonists even had dogs especially trained to kill Indians and to devour children from their mothers breasts, in the colonists’ own words: “blood Hounds to draw after them, and Mastives to seaze them.” (This was inspired by spanish methods of the time)
        In this way they continued until the extermination of the Pequots was near. [SH107-119]
        The surviving handful of Indians “were parceled out to live in servitude. John Endicott and his pastor wrote to the governor asking for ‘a share’ of the captives, specifically ‘a young woman or girle and a boy if you thinke good’.” [SH115]
        Other tribes were to follow the same path.
        Comment the Christian exterminators: “God’s Will, which will at last give us cause to say: How Great is His Goodness! and How Great is his Beauty!”
        “Thus doth the Lord Jesus make them to bow before him, and to lick the Dust!” [TA]
        Like today, lying was OK to Christians then. “Peace treaties were signed with every intention to violate them: when the Indians ‘grow secure uppon (sic) the treatie’, advised the Council of State in Virginia, ‘we shall have the better Advantage both to surprise them, & cutt downe theire Corne’.” [SH106]
        In 1624 sixty heavily armed Englishmen cut down 800 defenseless Indian men, women and children. [SH107]
        In a single massacre in “King Philip’s War” of 1675 and 1676 some “600 Indians were destroyed. A delighted Cotton Mather, revered pastor of the Second Church in Boston, later referred to the slaughter as a ‘barbeque’.” [SH115]
        To summarize: Before the arrival of the English, the western Abenaki people in New Hampshire and Vermont had numbered 12,000. Less than half a century later about 250 remained alive – a destruction rate of 98%. The Pocumtuck people had numbered more than 18,000, fifty years later they were down to 920 – 95% destroyed. The Quiripi-Unquachog people had numbered about 30,000, fifty years later they were down to 1500 – 95% destroyed. The Massachusetts people had numbered at least 44,000, fifty years later barely 6000 were alive – 81% destroyed. [SH118] These are only a few examples of the multitude of tribes living before Christian colonists set their foot on the New World. All this was before the smallpox epidemics of 1677 and 1678 had occurred. And the carnage was not over then.
        All the above was only the beginning of the European colonization, it was before the frontier age actually had begun.
        A total of maybe more than 150 million Indians (of both Americas) were destroyed in the period of 1500 to 1900, as an average two thirds by smallpox and other epidemics, that leaves some 50 million killed directly by violence, bad treatment and slavery.
        In many countries, such as Brazil, and Guatemala, this continues even today.
        More Glorious events in US history

        Reverend Solomon Stoddard, one of New England’s most esteemed religious leaders, in “1703 formally proposed to the Massachusetts Governor that the colonists be given the financial wherewithal to purchase and train large packs of dogs ‘to hunt Indians as they do bears’.” [SH241]
        Massacre of Sand Creek, Colorado 11/29/1864. Colonel John Chivington, a former Methodist minister and still elder in the church (“I long to be wading in gore”) had a Cheyenne village of about 600, mostly women and children, gunned down despite the chiefs’ waving with a white flag: 400-500 killed.
        From an eye-witness account: “There were some thirty or forty squaws collected in a hole for protection; they sent out a little girl about six years old with a white flag on a stick; she had not proceeded but a few steps when she was shot and killed. All the squaws in that hole were afterwards killed …” [SH131]
        More gory details.
        By the 1860s, “in Hawai’i the Reverend Rufus Anderson surveyed the carnage that by then had reduced those islands’ native population by 90 percent or more, and he declined to see it as tragedy; the expected total die-off of the Hawaiian population was only natural, this missionary said, somewhat equivalent to ‘the amputation of diseased members of the body’.” [SH244]
        20th Century Church Atrocities

        Catholic extermination camps
        Surpisingly few know that Nazi extermination camps in World War II were by no means the only ones in Europe at the time. In the years 1942-1943 also in Croatia existed numerous extermination camps, run by Catholic Ustasha under their dictator Ante Paveli, a practising Catholic and regular visitor to the then pope. There were even concentration camps exclusively for children!

        In these camps – the most notorious was Jasenovac, headed by a Franciscan friar – orthodox-Christian serbians (and a substantial number of Jews) were murdered. Like the Nazis the Catholic Ustasha burned their victims in kilns, alive (the Nazis were decent enough to have their victims gassed first). But most of the victims were simply stabbed, slain or shot to death, the number of them being estimated between 300,000 and 600,000, in a rather tiny country. Many of the killers were Franciscan friars. The atrocities were appalling enough to induce bystanders of the Nazi “Sicherheitsdient der SS”, watching, to complain about them to Hitler (who did not listen). The pope knew about these events and did nothing to prevent them. [MV]
        Catholic terror in Vietnam
        In 1954 Vietnamese freedom fighters – the Viet Minh – had finally defeated the French colonial government in North Vietnam, which by then had been supported by U.S. funds amounting to more than $2 billion. Although the victorious assured religious freedom to all (most non-buddhist Vietnamese were Catholics), due to huge anticommunist propaganda campaigns many Catholics fled to the South. With the help of Catholic lobbies in Washington and Cardinal Spellman, the Vatican’s spokesman in U.S. politics, who later on would call the U.S. forces in Vietnam “Soldiers of Christ”, a scheme was concocted to prevent democratic elections which could have brought the communist Viet Minh to power in the South as well, and the fanatic Catholic Ngo Dinh Diem was made president of South Vietnam. [MW16ff]

        Diem saw to it that U.S. aid, food, technical and general assistance was given to Catholics alone, Buddhist individuals and villages were ignored or had to pay for the food aids which were given to Catholics for free. The only religious denomination to be supported was Roman Catholicism.

        The Vietnamese McCarthyism turned even more vicious than its American counterpart. By 1956 Diem promulgated a presidential order which read:
        “Individuals considered dangerous to the national defense and common security may be confined by executive order, to a concentration camp.”
        Supposedly to fight communism, thousands of buddhist protesters and monks were imprisoned in “detention camps.” Out of protest dozens of buddhist teachers – male and female – and monks poured gasoline over themselves and burned themselves. (Note that Buddhists burned themselves: in comparison Christians tend to burn others). Meanwhile some of the prison camps, which in the meantime were filled with Protestant and even Catholic protesters as well, had turned into no-nonsense death camps. It is estimated that during this period of terror (1955-1960) at least 24,000 were wounded – mostly in street riots – 80,000 people were executed, 275,000 had been detained or tortured, and about 500,000 were sent to concentration or detention camps. [MW76-89].

        To support this kind of government in the next decade thousands of American GI’s lost their life….

        Rwanda Massacres
        In 1994 in the small african country of Rwanda in just a few months several hundred thousand civilians were butchered, apparently a conflict of the Hutu and Tutsi ethnic groups.
        For quite some time I heard only rumours about Catholic clergy actively involved in the 1994 Rwanda massacres. Odd denials of involvement were printed in Catholic church journals, before even anybody had openly accused members of the church.

        Then, 10/10/96, in the newscast of S2 Aktuell, Germany – a station not at all critical to Christianity – the following was stated:

        “Anglican as well as Catholic priests and nuns are suspect of having actively participated in murders. Especially the conduct of a certain Catholic priest has been occupying the public mind in Rwanda’s capital Kigali for months. He was minister of the church of the Holy Family and allegedly murdered Tutsis in the most brutal manner. He is reported to have accompanied marauding Hutu militia with a gun in his cowl. In fact there has been a bloody slaughter of Tutsis seeking shelter in his parish. Even two years after the massacres many Catholics refuse to set foot on the threshold of their church, because to them the participation of a certain part of the clergy in the slaughter is well established. There is almost no church in Rwanda that has not seen refugees – women, children, old – being brutally butchered facing the crucifix.

        According to eyewitnesses clergymen gave away hiding Tutsis and turned them over to the machetes of the Hutu militia.

        In connection with these events again and again two Benedictine nuns are mentioned, both of whom have fled into a Belgian monastery in the meantime to avoid prosecution. According to survivors one of them called the Hutu killers and led them to several thousand people who had sought shelter in her monastery. By force the doomed were driven out of the churchyard and were murdered in the presence of the nun right in front of the gate. The other one is also reported to have directly cooperated with the murderers of the Hutu militia. In her case again witnesses report that she watched the slaughtering of people in cold blood and without showing response. She is even accused of having procured some petrol used by the killers to set on fire and burn their victims alive…” [S2]

        As can be seen from these events, to Christianity the Dark Ages never come to an end….

        Ini semua kejahatan ATAS NAMA KRISTEN. bukan sekedar kejahatan dari pihak sekuler, semua atas instruksi gereja atau atas nama agama kristen.

      • 3. Kristen menghargai wanita.

        Ini juga hoax besar, pernah lihat pemuka agama wanita seperti dalam islam?(ustadzah), pernah lihat pastor perempuan?, tidak?, paus perempuan?

        KITAB KRISTEN Ulangan 25:11-12
        (11) Apabila dua orang berkelahi dan isteri
        yang seorang datang mendekat untuk
        menolong suaminya dari tangan orang
        yang memukulnya, dan perempuan itu
        mengulurkan tangannya dan menangkap
        kemaluan orang itu,
        (11) “Kalau dua orang laki-laki sedang
        berkelahi dan istri yang seorang berusaha
        menolong suaminya dengan meremas
        kemaluan lawan suaminya,
        (12) maka haruslah kaupotong tangan
        perempuan itu; janganlah engkau merasa
        sayang kepadanya.”
        (12) potonglah tangan wanita itu dan
        jangan kasihani dia.

  3. MITOS-MITOS ISLAM

    Muslim sering merengek bahwa pihak Barat/non-Muslim kurang memahami agama mereka. PADAHAL MUSLIM SENDIRI tidak mengerti agama mereka dan bahkan termakan kebohongan/mitos Islam.
    Ini mitos-mitos yang dipercaya kuat oleh Muslim sedunia yang mereka coba paksakan kepada dunia Kafir:

    1.Islam berarti ‘Damai’
    2.Islam menghargai bahwa perempuan adalah sama [emansipasi perempuan]
    3.Jihad berarti ‘peperangan didalam batin’
    4.Islam adalah agama damai
    5.Islam itu agama yang toleran dengan agama lain
    6.Islamlah yang menghantarkan kepada zaman Keemasan dari penemuan-penemuan Ilmu Pengetahuan
    7.Islam menentang perbudakan
    8.Islam itu bukan teroris
    9.Islam itu sama dengan demokrasi

    Mari kita bedah satu per satu …

    1. ISLAM BERARTI ‘DAMAI’

    Mitos:
    Muslim yang kurang berpendidikan sering main klaim bahwa akar dari kata ‘Islam’ adalah ‘Al-Salaam’, yang berarti ‘Damai’ didalam bahasa Arab.
    Fakta:
    Akar kata dari ‘Islam’ adalah ‘Al-Silm,’ yang berarti ‘penyerahan’ atau ‘menyerah/tunduk’ sepenuhnya (kepada Allah). Ini disetujui secara luas oleh cendekiawan Islam.
    Penyerahan dan damai memiliki konsep berbeda, tapi damai versi Islam juga bisa dicapai lewat kekerasan yang dipaksakan kepada pihak lain agar menyerah (kepada Islam).
    Qur’an tidak hanya menyuruh Muslim untuk tunduk kepada Allah, tetapi juga memerintahkan mereka untuk memaksa orang dari agama lain untuk tunduk kepada ‘Hukum Islam’. Ini dibuktikan oleh sejarah Islam yang penuh dengan peperangan berdarah untuk menundukkan orang lain.

    2. ISLAM MENGHORMATI PEREMPUAN

    Mitos:
    Qur’an menempatkan laki-laki dan perempuan sama dihadapan Allah. Setiap orang dihakimi menurut perbuatannya (amal-sholeh) sendiri. Hukum Islam memberikan perempuan hak yang sama dengan laki-laki.
    Fakta:
    Bahwa setiap orang (baik laki-laki maupun perempuan) dihakimi oleh Allah tidak berarti bahwa mereka punya hak yang sama dan peran yang sama, atau dihakimi dengan standar yang sama. Faktanya, QS 37 As-Saffat 22-23 menyatakan pada Hari Kiamat kaum perempuan akan dihakimi sesuai dengan dosa-dosa yang mereka lakukan terhadap suami mereka, tetapi tidak sebaliknya, laki-laki dihakimi sesuai dengan kelakuan mereka terhadap istri-istri mereka.
    Qur’an dengan sangat jelas dan tanpa tedeng aling-aling menyatakan bahwa perempuan adalah dibawah laki-laki.
    Setelah menang perang, Muhammad sering memberikan para perempuan tawanan sebagai hadiah bagi para begundal/tentaranya. Sedikitnya dalam satu kasus, Muhammad memberi saran kepada tentaranya untuk memperkosa para perempuan dihadapan para suami mereka. Para tahanan perempuan dijadikan budak seks oleh laki-laki yang membunuh suami dan saudara laki-laki mereka.
    Sedikitnya ada 3 ayat di Qur’an yang menyatakan bahwa Allah berfirman bahwa Muslim mempunyai hak seksual penuh atas para budak perempuan dan tidak ada satupun ayat Qur’an yang melarang pemerkosaan.
    Qur’an mengijinkan laki-laki Muslim untuk memukul istri mereka kalau mereka tidak taat. Dengan sangat jelas dikatakan bahwa suami adalah “satu derajat diatas” istri. Hadis Sahih menyatakan bahwa perempuan itu inteleknya setengah dari laki-laki dan bahwa mereka adalah penghuni Neraka.
    Dibawah Hukum Islam, laki-laki bisa menceraikan istrinya semaunya. Dan jika dia mau menikahi istrinya lagi, istrinya harus berhubungan seks terlebih dahulu dengan laki-laki lain sebelum boleh kembali rujuk dengan suaminya. Para laki-laki tidak perlu melakukan hal itu.
    Perempuan Muslim tidak bebas menikahi siapapun yang mereka suka, lain dengan laki-laki Muslim. Suami mereka bisa menikahi perempuan lain kapanpun dan siapapun. Perempuan harus siap setiap saat melayani suaminya, kapanpun suaminya menginginkan hubungan seks (“seperti ladang siap untuk dikerjakan”, sesuai kalimat Qur’an).
    Perempuan Muslim tidak mewarisi warisan harta yang sama dengan para laki-laki. Kesaksian mereka di pengadilan nilainya setengah dari kesaksian laki-laki. Tidak seperti para laki-laki, perempuan harus menutup kepala mereka dan bahkan wajah mereka.
    Jika perempuan mengatakan bahwa mereka telah diperkosa, mereka harus dapat menghadirkan empat saksi laki-laki untuk mendukungnya. Sebaliknya jika ia tidak dapat menghadirkan para saksi laki-laki, justru sang perempuan yang akan dituduh berzinah dan hukuman maksimalnya adalah perajaman sampai mati.
    Dengan bukti-bukti ini, sangatlah sulit untuk mengatakan bahwa perempuan dan laki-laki adalah sama dibawah Hukum Islam. Mereka yang ingin memoles Islam agar terlihat modern dihadapkan pada kenyataan-kenyataan hukum dan sejarah Islam yang sangat bertentangan.
    Bersambung..

  4. …sambungan

    3. JIHAD BERARTI PERGULATAN/PERJUANGAN BATIN

    Mitos:
    Muslim sering bersikeras bahwa didalam bahasa Arab, Jihad yang berarti “bertarung/perang” atau “bergumul”, lebih menunjuk kepada “peperangan batin” daripada Perang Suci secara fisik.
    Fakta:
    Mengaku bahwa Jihad digunakan hanya dalam konteks perjuangan batin sama dengan mengubur kepala dalam tanah. Anda pikir Muhammad menggunakan perintah jelas dalam Qur’an, seperti memotong jari dan memenggal kepala Kafir hanya demi ‘perjuangan batin’?
    Menghadapi kenyataan-kenyataan ini, Muslim sering berputar-putar plintat-plintut ngalor-ngidul, mengaku bahwa Jihad mengandung dua arti; Bahwa “perjuangan batin” adalah “Jihad yang lebih besar” dan oleh karena itu “Perang Suci secara fisik” itu “lebih kecil”. Ini hanya pernyataan politically correct (pembenaran) yang dicari-cari yang didasarkan pada Hadis dengan jumlah sangat sedikit, lemah dan sangat tidak bisa dipercaya.
    Sebaliknya, Hadis yang paling bisa dipercaya yakni Hadis Sahih Bukhari menyatakan bahwa kata Jihad, yang disebutkan lebih dari 200 kali oleh Muhammad dan setiap kali diucapkan, selalu menunjuk kepada Perang Suci secara fisik (Holy War). Dan ironisnya, Hadis Sahih Bukhari TIDAK sekalipun menunjuk pada kata Jihad dalam konteks “perjuangan/pergumulan batin.”

    4. ISLAM ADALAH AGAMA DAMAI

    Mitos:
    Muhammad adalah orang yang penuh damai yang mengajarkan para pengikutnya untuk mencintai sesama. Muslim telah hidup damai selama berabad-abad, hanya berperang untuk membela diri ketika dibutuhkan dan bahwa Muslim yang sejati tidak pernah berlaku agresif.
    Fakta:
    Dalam 10 tahun terakhir hidupnya, Muhammad mengepalai 65 aksi militer, 27 diantaranya ia terjun secara langsung. Semakin kuat pasukan Muhammad, semakin kecil alasan dia untuk memimpin perang secara langsung. Muhammad menyerang suku-suku di Jazirah Arab hanya karena mereka tidak mau menerima Allah atau dirinya sebagai Rasulullah.
    Setelah Muhammad mati karena racun, para pengikut setianya dan bahkan anggota keluarganya saling baku hantam dalam peperangan berdarah. Dalam 25 tahun pertama, ada 4 Khalifah (pemimpin). 3 dari 4 Khalifah terbunuh oleh sesama Muslim dalam perebutan kekuasaan. Khalifah ketiga dibunuh oleh anak dari Khalifah pertama. Khalifah keempat dibunuh oleh Khalifah kelima yang juga berakhir secara mengerikan dengan pembunuhan massal yang dilakukan oleh sesama keturunan Muhammad.
    Anak perempuan Muhammad sendiri, Fatimah dan suaminya/menantu Muhammad, Ali, tetap tidak luput dari peperangan didalam tubuh Islam. Fatimah mati setelah dianiaya selama 3 bulan dan Ali juga dibunuh. Anak mereka (cucu Muhammad – Hussein) juga dibunuh dalam peperangan dengan kelompok Islam yang pada akhirnya bernama Islam Sunni, sedangkan kelompoknya diberi nama Islam Shi’a. Pada akhirnya keluarga keturunan Muhammad saling berperang dan memecah belah Islam dari dalam tubuhnya sendiri.
    Muhammad sendiri meninggalkan pesan sebelum meninggal agar Muslim memerangi Yahudi, Kristen dan orang Persia. Dan 4 abad berikutnya, tentara Muslim menaklukkan wilayah dengan cara menjarah, merampok, memperbudak dan memaksa orang-orang yang ditaklukkan untuk memeluk Islam atau membayar pajak yang sangat tinggi (Jizyah).
    Para sahabat Muhammad meneruskan pesan Muhammad dan memerintahkan pengikut agar berjihad fisik terhadap semua agama besar dunia saat itu – Hindu, Kristen, Zoroastrian dan Buddhis.
    Pada saat munculnya Kaum Salibi/The Crusades (ketika Eropa mulai melawan penjajahan Islam), Muslim sudah menaklukkan 2/3 dari dunia Kristen dengan pedang dan kekerasan, dari Spanyol sampai ke Suriah, bahkan sampai ke Afrika Utara. Pasar perdagangan budak yang dilakukan oleh orang-orang Arab berjalan sampai 1.300 tahun, sampai akhirnya negara-negara mayoritas Kristen menekan negara-negara Islam untuk menyatakan bahwa perbudakan itu ilegal.
    Pada kenyataannya, saat ini tidak ada agama lain didunia yang secara konsisten dapat menghasilkan teroris dan kekerasan atas nama agama, seperti yang dilakukan oleh Islam. HANYA ISLAM yang dapat memproduksi teroris yang dengan bangga menyatakan bahwa dia melakukan terror karena cinta kepada Islam. Orang Islam yang paling berbahaya adalah mereka yang mentafsirkan Qur’an secara apa adanya, tanpa kemunafikan. Mereka itu adalah Muslim yang paling murni imannya (Muslim sejati) dan tidak menambah-nambahkan tafsiran apapun atas Qur’an. Mereka ini yakin bahwa perintah Muhammad adalah untuk menyebarkan Islam dengan pedang dan membinasakan mereka yang tidak mau tunduk, dan kedamaian hanya dapat dicapai ‘saat tidak lagi ada fitnah,’ alias: Sampai akhirnya seluruh dunia tunduk dibawah Islam.
    Qur’an sendiri dipenuhi dengan ayat-ayat kekerasan dan kebencian terhadap mereka yang berada diluar Islam. Sangat berbeda dengan kitab-kitab sebelumnya, dimana Perjanjian Lama dipenuhi dengan kekerasan pula tetapi kemudian diubah oleh Perjanjian Baru dengan ajakan kasih dan damai. Qur’an adalah kebalikannya, pada awalnya keluar ayat-ayat Mekkah (saat Muhammad masih belum punya kekuatan) yang dipenuhi dengan pesan damai. Tetapi lambat laun saat Islam dan Muhammad menjadi kuat di Madinah, pesan-pesannya menjadi sangat penuh dengan kekerasan, kebencian dan perintah untuk memerangi orang lain.
    Sementara kisah-kisah di Perjanjian Lama Alkitab yang ada pula kisah perang dan darah, hanya berlaku untuk konteks saat itu seperti yang dinyatakan di dalam Alkitab, sebaliknya pesan-pesan kekerasan dan kebencian di Qur’an berlaku terbuka (universal) tanpa batas waktu.

    5. ISLAM AGAMA YANG TOLERAN ATAS AGAMA LAIN

    Mitos:
    Agama minoritas berkembang dibawah Hukum Islam. Muslim diperintahkan untuk melindungi dan tidak menyakiti orang Yahudi dan orang Kristen (kaum Ahlul Kitab).
    Fakta:
    Agama minoritas TIDAK PERNAH berkembang dibawah Hukum Islam. Faktanya, selama berabad-abad agama minoritas selalu ditekan penganiayaan dan diskriminasi. Banyak dari mereka yang dipaksa murtad dari agama asli mereka dan dipaksa memeluk Islam, yang lainnya hidup sebagai masyarakat kelas dua (dzimmi), yang mana harus membayar pajak lebih tinggi dan harus rela hidup di diskriminasi.
    Ini memang kebohongan yang PALING disukai Muslim untuk menarik minat Kafir kepada Islam. TAPI apa yang disebut oleh Muslim sebagai “toleransi”, oleh orang lain disebut sebagai “diskriminasi yang dilembagakan”. Begitu Yahudi dan Kristen menjadi dzimmi di bawah Hukum Islam, mereka dianggap setuju untuk menjadi masyarakat kelas dua yang tidak mempunyai hak dan kebebasan beragama sederajad seperti yang dipunyai oleh Muslim. Mereka tidak dapat menunjukkan agama mereka, mereka tidak dapat memperbaiki ataupun membangun rumah ibadah tanpa seijin para Muslim.
    Sejarah membuktikan bahwa kaum dzimmi harus mengenakan pakaian dan potongan rambut mereka secara berbeda yang menandakan posisi rendah mereka. Mereka tidak mempunyai hak-hak hukum yang sama dengan Muslim, bahkan mereka dipaksa untuk membayar pajak tambahan khusus (Jizyah). Mereka wajib dibunuh atau merelakan anak mereka diambil Muslim bila mereka tidak mampu memuaskan para penagih pajak.

    10. Bersambung..

  5. …sambungan

    Selama ratusan tahun, anak-anak orang Kristen Eropa yang dijajah oleh Islam direbut dan dipaksa untuk menjadi Tentara Islam (Janissaries) dibawah pemerintahan Ottoman Turki.
    [Catatan: Baru-baru ini -Februari, 2008- PM Australia meminta maaf kepada orang Aborigin karena anak-anak mereka direbut dan dipaksa berasilimasi dengan orang kulit putih. Jangan harapkan permintaan maaf seperti ini dari Muslim!]
    Akibat diskriminasi dan status warga kelas dua/kelas tiga, banyak orang yang tidak tahan lalu kemudian memeluk Islam. Toleransi kepada mereka yang bukan “Ahlul Kitab”, seperti orang Hindu dan Ateis, jauh lebih parah lagi. Qur’an sendiri memerintahkan Muslim untuk “berperang di jalan Allah” sampai tidak lagi ada fitnah, yaitu “agama hanya untuk Allah.” Masyarakat yang telah ditaklukkan menghadapi hukuman mati jika mereka tidak salat dan memberi sedekah (zakat) sesuai dengan tradisi Islam.
    Raja-raja Islam seperti Tamerlane (Timur Lang) membantai ratusan ribu orang Hindu dan Buddha memaksa jutaan orang untuk memeluk Islam.
    Islam menerapkan standar ganda terhadap agama-agama lain. Disatu sisi mereka mengatakan bahwa orang dari agama lain dikutuk Allah, tetapi disisi lain mereka membual dengan indahnya toleransi terhadap agama lain. Ada lebih dari 500 ayat di dalam Qur’an yang berbicara tentang kebencian Allah terhadap non-Muslim dan hukuman bagi mereka yang tidak percaya. Sebaliknya ada beberapa ayat yang mengatakan toleransi, tetapi jelas sekali bahwa kebanyakan ayat-ayat yang awalnya toleransi itu pada akhirnya dibatalkan dan diganti dengan ayat-ayat kekerasan dan kebencian yang diturunkan lebih belakangan dari ayat-ayat toleransi tersebut.
    Jika toleransi berarti pebantaian massal bagi mereka yang berbeda agama, maka Islam pada umumnya memenuhi standar toleransi. Tetapi jika toleransi berarti membiarkan orang untuk bebas memeluk dan menjalankan agamanya, maka Islam secara fundamental adalah agama yang paling tidak toleran yang ada dimuka Bumi.

    6. ISLAM DAN JAMAN KEEMASAN ILMU PENGETAHUAN

    Mitos:
    Muslim sering bersikeras bahwa Islam berperan tinggi dalam penemuan ilmu pengetahuan, teknologi dan obat-obatan. Mereka sering menunjuk kepada periode abad ke 7 dan abad ke 13, ketika Eropa mengalami “Abad Kegelapan” dan Muslim membawa budaya yang baru.
    Fakta:
    Meskipun harus diakui bahwa dunia Muslim saat itu lebih maju dibandingkan dengan dunia “Kristen,” kemajuan itu BUKAN karena Islam, tetapi justru karena Islam DIABAIKAN oleh warga-warga ‘Muslim’ yang dipaksa masuk Islam. Faktanya, agama Islam sering mengecilkan pengetahuan dari luar Islam.
    Pertama, dunia Muslim banyak mendapat warisan dari ilmu pengetahuan Yunani yang diterjemahkan oleh orang-orang Kristen dan Yahudi (yang dipaksa masuk Islam). “Muslim-muslim terpaksa” inilah yang menjaga ilmu-ilmu Yunani tersebut yang kemudian -saat Muslim menjajah Eropa- ditransfer kepada orang Eropa.
    Kedua, banyak penemuan science yang diakui Islam sebenarnya dicaplok dari budaya bangsa lain yang ditaklukkan oleh tentara Islam. Contoh, konsep algoritma “zero” (angka 0), secara seenaknya diakui sebagai kontribusi Islam, PADAHAL angka 0 pertama ditemukan oleh orang Hindu.
    Faktanya, banyak komunitas yang djajah Islam mempunyai kontribusi besar dalam sejarah “ilmu pengetahuan Islam” karena secara perlahan tapi pasti komunitas itu di-Islamisasi (daripada jadi Dzimmi dan bayar pajak yang tinggi). Islam sendiri hanya berperan kecil dalam penemuan ilmu pengetahuan tersebut.
    Ketiga, bahkan ilmuwan Islam pada saat itu sering diakui sebagai orang sesat atau bidah. Sebagai contoh, satu dari penemu terbesar di dunia Islam adalah ilmuwan dan ahli filsafat Persia, Muhammad ibn Zakariya al-Razi. Karya-karyanya yang sangat menakjubkan sering digunakan sebagai bukti prestasi Islam. PADAHAL Al-Razi dikutuk sebagai penghujat Islam oleh kaum Islam konservatif sendiri.
    Keempat, bahkan kontribusi yang sering disangkutpautkan dengan Islam kebanyakan tidak begitu dramatis. Ada penemuan seperti kata-kata khusus, seperti Alchemy, Aljabar dan Elixir, tetapi tidak banyak yang berguna bagi kemajuan ilmu pengetahuan modern.
    Contoh lagi: Islam mengklaim penemuan kopi, karena biji kopi ditemukan di Afrika (pada saat itu, Afrika adalah sumber penting bagi pedagangan pasar budak bagi Islam) dan pertama diproses di Timur Tengah. Hal ini adalah benar adanya, tetapi jangan lupa juga menyebutkan bahwa zat pewarna merah yang digunakan di berbagai macam produk makanan, mulai dari jus strawberry sampai ke permen, berasal dari semacam kumbang betina yang hanya dapat ditemukan di Amerika Selatan. Dan tidak ada satupun orang Katolik yang mengaku bahwa zat pewarna merah adalah ‘penemuan Katolik’!
    Faktanya, banyak ‘penemuan Muslim’ yang sering diceritakan terlalu hiperbola (berlebihan) dan sudah kadaluwarsa. Pencapaian ilmu pengetahuan, obat-obatan dan teknologi adalah sesuatu yang mana pembela Muslim tidak mau dibandingkan dengan dunia Kristen (karena kalah telak kalau dibandingkan). Hari ini para pengembang Islam hanya dikenal semata-mata karena mengubah teknologi Barat (seperti cell phone dan pesawat terbang) menjadi senjata pembunuh massal.
    Singkatnya, meskipun dunia Islam mempunyai peran dalam sejarah ilmu pengetahuan, tetapi SALAH BESAR kalau anda mengatakan bahwa karena Islam-lah semua ilmu pengetahuan modern itu ada sekarang ini. Banyak pencapaian ilmu pengetahuan yang dikatakan berasal dari dunia Islam ternyata berasal dari non-Muslim yang tinggal di negara Islam atau berasal dari Muslim KTP yang mana tidak mempunyai ketertarikan terhadap agama sama sekali.

    7. ISLAM MENENTANG PERBUDAKAN

    Mitos:
    Islam menentang segala bentuk perbudakan. Islam menghancurkan segala bentuk perbudakan, kita harus berterima kasih kepada prinsip-prinsip yang ditanamkan oleh Muhammad yang adalah seorang penentang perbudakan.
    Fakta:
    Tidak ada satupun ayat Qur’an yang menentang perbudakan. Faktanya, buku “suci” umat Islam ini secara tegas memberikan kebebasan kepada para pemilik budak untuk berhubungan seksual dengan budak mereka – bukan hanya di satu ayat, tetapi sedikitnya di 4 Surah yang berbeda. Di dalam Hukum Islam sendiri bertebaran hukum mengenai cara memperlakukan budak, tetapi tidak ada yang membatasi secara ketat cara memperlakukan budak secara manusiawi.
    Hukum Islam yang ada (& kenyataan bahwa Muhammad memiliki dan berdagang budak) mendukung dan melegalkan perdagangan budak. Sebagai contohnya adalah bahwa kesengsaraan manusia sudah menjadi bagian dari tradisi Islam sejak jaman Muhammad dan menjadi situasi yang tidak menguntungkan bagi para non-Muslim di Sudan, Mali, Nigeria dan Mauritania dan sebagainya.
    Tidak pernah ada gerakan untuk berusaha menghapus perbudakan di dalam sejarah Islam. Penghapusan perbudakan yang dimulai di negara-negara Islam disebabkan oleh tekanan politik negara-negara Eropa. Bila memang Islam anti perbudakan, maka tidak dibutuhkan tekanan sedikitpun dari negara-negara Eropa agar negara Islam menghapuskan praktek perbudakan.
    Meskipun sampai saat ini masih terjadi banyak kekerasan sangat mengerikan terhadap budak (baca: TKW) yang terjadi di dunia Muslim, tetapi hanya sedikit yang peduli maupun menyesali apalagi merasa bersalah atas fakta tersebut. Itu jelas menunjukkan bahwa Muslim menganggap perbudakan ala Islam sebagai sesuatu yang NORMAL!
    BAHKAN banyak Muslim percaya bahwa perempuan, laki-laki dan anak-anak yang diperbudak setelah kalah perang, sebenarnya harus berterima kasih bahwa mereka tidak dibunuh Jihadis yang menawan mereka!
    Rasa malu dan permintaan maaf tidak pernah ditemukan dalam Darul Islam. Para Khalifah dan para pemimpin agama memiliki ribuan gundik, gadis dan perempuan yang ditangkap dari Eropa yang dijadikan budak seks. Gadis-gadis Hungaria dikejar-kejar seperti binatang oleh tentara Ottoman Turki, yang menjadikan lebih dari 3 juta orang menjadi budak selama lebih dari 150 tahun kekuasaan mereka.
    Para budak Afrika sering dikebiri oleh para majikan Muslim mereka. Ini alasan mengapa tidak ditemukan banyak keturunan Afrika di Timur Tengah, meskipun perbudakan dari Afrika di tanah Arab berlangsung selama 1.300 tahun dibandingkan dengan 300 tahun perbudakan di tanah Eropa.
    Tidak ada orang seperti William Wilberforce atau Bartolome de las Casas (orang-orang Kristen yang memulai penghapusan perbudakan di Eropa) di dalam sejarah Islam. Kalau kita minta Muslim menyebutkan satu saja nama orang Islam yang menjadi pelopor penghapusan perbudakan, mereka cuma mampu menyebutkan nama Muhammad seseorang. Tetapi, kalau seorang pemilik budak dan juga pedagang budak, yang memerintahkan penangkapan dan eksplorasi seksual terhadap budak dan meninggalkan warisan 13 abad perbudakan, adalah yang terbaik yang bisa ditawarkan oleh Islam, tidak banyak yang bisa diharapkan dari Islam.

    8. ISLAM TIDAK ADA SANGKUT PAUTNYA DENGAN TERORIS

    Mitos:
    Islam tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan aksi terorisme. Pembunuhan terhadap orang yang tidak bersalah adalah bertentangan dengan Islam.
    Fakta:
    Meskipun banyak orang Islam yang percaya bahwa agama mereka melarang pembunuhan terhadap orang yang tidak bersalah oleh aksi terorisme, kebenarannya ternyata lebih rumit dari itu. Itulah kenapa Jihadis dan penentang mereka bisa sama-sama saling menuduh satu sama lain bahwa mereka bukanlah Islam yang sejati.
    Faktanya, definisi dari “orang yang tidak bersalah” adalah tidak mudah dijelaskan oleh para pembela Islam, begitu juga definisi dari “terorisme”.
    Pertama, kita harus mempertimbangkan bahwa siapapun yang menolak Muhammad sebagai Rasul Tuhan adalah dianggap bukan “orang yang tidak bersalah (innocent people)” dibawah Hukum Islam. Kelompok yang paling dilindungi dan dihargai dari semua orang yang non-Muslim adalah dzimmi. Ini termasuk didalamnya yaitu orang Yahudi dan Kristen yang menyetujui untuk hidup dibawah Hukum Islam dan membayar Jizyah (pajak kepada Muslim). Tetapi kata “Dzimmi” berasal dari akar kata bahasa Arab yang berarti “bersalah” atau “dipersalahkan”.
    Jadi kalau orang dzimmi mempunyai status bersalah yang menempel pada status mereka (karena menolak Hukum Islam yang “sepenuhnya”), bagaimana mungkin non-Muslim tidak mau tunduk pada Hukum Islam sama sekali atau menolak membayar pajak bisa dikategorikan sebagai “orang yang tidak bersalah/innocent people?”
    Didalam komunitas Islam sendiri ada kategori dari orang Muslim yang juga dikatakan bersalah bahkan dikatakan lebih berdosa dari para non-Muslim. Kelompok ini adalah kelompok orang munafik atau Munafikin, yang mana Muhammad menunjuk kelompok ini sebagai golongan yang paling hina. Kelompok Munafikin ini adalah kelompok Islam KTP. Mereka dapat dikatakan Munafikin karena tidak mau melakukan Jihad atau karena secara sengaja mengacaukan komunitas Muslim.
    Ketika Muslim membunuh sesama Muslim atas nama Allah (misal, antara Sunni dan shi’a), mereka yang melakukannya biasanya percaya bahwa korban mereka adalah Munafikin atau orang Kafir, dan ini sebenarnya merupakan bagian dari Hukum Islam yang bernama Takfir, yang mana jika ada Muslim yang murtad dan kemudian dieksekusi.
    Sebagai tambahan dari tidak jelasnya definisi “orang yang tidak bersalah”, adanya masalah bagi kita untuk membedakan antara terorisme dan Jihad. Teroris Islam tidak pernah menyebut diri mereka sebagai teroris, tetapi selalu menyebut diri mereka sebagai Pejuang Suci (Mujahidin, Syahid atau Fedayeen). Mereka menganggap aksi mereka sebagai bagian dari Jihad (berperang di jalan Allah).
    Jihad adalah sesuatu yang Muhammad perintahkan di dalam Qur’an dan Hadis. Di Surah 9 At-Tawbah 29, Muhammad memberikan prinsip bahwa orang Kafir harus diperangi sampai mereka memeluk Islam atau menerima/tunduk kepada Hukum Islam (syariat). Hal ini dikonfirmasikan di Hadis Sahih Muslim dan Bukhari.
    Di banyak tempat, Muhammad berkata bahwa Jihad adalah jalan yang ideal bagi Muslim dan bahwa Muslim harus “berperang di jalannya Allah”. Ada puluhan pesan terbuka di Qur’an yang mendorong peperangan dan pembunuhan – lebih dari damai dan toleransi. Sangatlah naïf kalau kita berpikir bahwa ayat-ayat Qur’an yang katanya berlaku sepanjang masa ini hanyalah kita ambil nilai sejarahnya saja dan tidak ada relevansinya pada Muslim saat ini, khususnya ketika tidak ada petunjuk di dalam teks tersebut yang menjelaskan tentang hal ini.
    Mengabungkan perintah Qur’an tentang Jihad dengan ketidak jelasan tentang siapa orang yang tidak bersalah (innocence) menimbulkan masalah yang tidak dapat dijelaskan hanya dengan permainan dan akrobatik kata-kata. Bukan hanya karena diijinkannya kekerasan di dalam Islam, tetapi juga karena adanya ketidaksetujuan dan ketidaktulusan yang membenarkan kekerasan tersebut dan juga sasaran dari kekerasan itu.
    Bersambung..

  6. ….sambungan

    Jadi meskipun banyak Muslim mengklaim bahwa mereka tidak setuju kepada terorisme tetapi disisi lain mereka mendukung aksi-aksi perlawanan yang terjadi di Irak, sebagai contohnya, dan sering menyatakannya sebagai “perang melawan Islam”. Meskipun pasukan Amerika di Irak adalah untuk melindungi orang sipil dan membantu membangun kembali Irak, tetapi Muslim di seluruh dunia dan bahkan Muslim di Barat percaya bahwa adalah benar bagi orang Islam Sunni untuk membunuh pasukan Amerika di Irak.
    Karena merasa didukung oleh Islamlah, para Mujahidin merasa bahwa adalah benar untuk menyerang sesama orang Irak – yang telah membantu pasukan Amerika bahkan bila mereka adalah bagian dari pemerintah Irak yang terpilih secara demokratis. Baik sipil ataupun tentara, mereka adalah “Munafikin” apabila mereka membantu musuh mereka: “The Crusaders”.
    Meskipun kita menggunakan Irak sebagai contoh disini, banyak contoh yang lain yang menggunakan alasan dan dasar yang sama dibalik semua teror yang dilakukan oleh Islam, dari Filipina sampai ke Thailand. Dimanapun agama Islam sebagai minoritas, selalu ada orang Muslim yang percaya bahwa kekerasan adalah dibenarkan untuk membawa mereka kepada dominasi – seperti yang diajarkan oleh Muhammad dengan teladannya sewaktu menaklukkan Mekkah dan tanah Al-Hirath.
    Dan bagaimana dengan yang disebut “orang yang tidak bersalah” yang menjadi korban dari pemboman dan penembakan? Bahkan di masa Muhammad masih hidup, pembunuhan terhadap mereka juga tidak dapat dielakkan. Bahkan didalam Hadis yang mana Muhammad melarang pembunuhan terhadap para perempuan, juga terindikasi bahwa ada korban perempuan disetiap perang yang diperintahkan oleh Muhammad. (By the way, perempuan dilarang dibunuh dalam perang Muslim bukan karena alasan kemanusiaan, tetapi justru karena alasan syahwat semata. Bila ditanya, mungkin dari kebanyakan perempuan tawanan begundal-begundal Muhammad itu akan lebih memilih dibunuh daripada jadi slave sex kaum
    bersorban).
    Peristiwa ketika orang Muhammad memperingati dia bahwa penyerangan di malam hari terhadap markas musuh dapat mengakibatkan terbunuhnya perempuan dan anak-anak dapat kita jadikan contohnya. Karena Muhammad tetap melaksanakan penyerangan tersebut.
    Faktanya, Islam secara terbuka membenarkan Jihad. Persepsi awal yang dikatakan tentang pembelaan diri terhadap ancaman, perlahan tapi pasti berubah menjadi kampanye kekerasan yang bertujuan untuk menegakkan Hukum Islam (syariat).
    Islam didirikan tidak untuk menjadi setara dengan agama-agama lain, Islam didirikan untuk mendominasi, dengan Syariat-nya sebagai hukum yang terutama. Hukum Islam harus ditegakkan sampai ke ujung Bumi dan untuk melaksanakan Islam dapat menghalalkan semua cara.
    Para pembela Islam di dunia Barat sering mengatakan bahwa banyak ayat-ayat kekerasan di Qur’an hanya relevan di “waktu perang”. Untuk hal ini, para teroris Islam sangatlah setuju dengan mereka, bahwa saat ini mereka menganggap sedang di dalam situasi peperangan.

    9. ISLAM ADALAH DEMOKRATIS

    Mitos:
    Islam itu sejalan dengan prinsip-prinsip demokrasi. Islam itu sendiri adalah demokrasi.
    Fakta:
    Demokrasi adalah sistem dimana semua orang adalah sama kedudukannya dihadapan hukum, tidak peduli tentang ras, agama atau jenis kelamin. Pendapat semua orang dihargai seperti juga pendapat orang lain. Keinginan bersama dari masyarakat yang akan menentukan kebijaksanaan dari masyarakat itu.
    Dibawah Hukum Islam, hanya laki-laki Muslim yang dapat menikmati hak-hak penuh. Keberadaan perempuan sendiri sering dihitung hanya setengah dari hak laki-laki, kadang-kadang tidak sampai setengahnya. Non-Muslim sama sekali tidak mempunyai hak seperti yang dipunyai Muslim.
    Negara Islam dituntun oleh Hukum Islam, yang diambil dari Qur’an dan Sunnah. Lembaga Ulama bertugas untuk menafsirkan hukum tersebut dan mengaplikasikannya disemua situasi sosial, budaya dan politik.
    Adalah pertanyaan yang sulit dijawab, apakah ada negara di dunia Islam yang memenuhi kualifikasi demokrasi yang sesungguhnya. Dan bagaimanapun tidak dapat disangkal bahwa di dalam negara demokrasi sering terjadi bentrokan karena beda kepentingan antara pemerintah dan para pemimpin rohani, yang mana pada akhirnya selalu pemerintah dikatakan Kafir karena tidak menuruti para pemimpin rohani.
    Kesimpulannya: Islam bukanlah demokrasi.

  7. Cari di Youtube:game yg menghina islam Di situ ada game yg terkandung illuminati juga

  8. aku sukaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa blog iniiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiih…SABAN HARI AKU BACA!!!!!..
    .ai lop yu puuuuuul…ama yg punya blog…ama yg koment2…….semua.bikin hidupku jdi berwarna…berasa kayak nano2..
    aku suka kalian semua…
    agak lagi gaktulisan terbaru..?????…MUUUaaach…muaaaach…MUUAAAACH BUAT SEMUANYAAA……
    piiiiisss deech…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s